Langsung ke konten utama

Perjalanan


Perjalanan kali ini mungkin sama seperti perjalanan gue sebelum-sebelumnya, liburan semesteran udah selesai, itu artinya waktunya gue buat balik lagi ke kota tempat dimana gue kuliah, Bandung. perjalanan dari rumah ke bandung memakan waktu kurang lebih 3 jam,  bukan waktu yang cukup singkat untuk ketemu banyak orang yang belum pernah gue kenal sebelumnya terlebih gue naik angkutan umum, udah pasti gue harus berdempetan dengan penumpang lainnya, selama perjalanan, kalo ngga tidur, gue suka memperhatikan penumpang-penumpang lain, entah itu dari cara mereka berinteraksi dengan penumpang lain, gimana sikap mereka selama perjalanan dan lain lainnya.
hari itu gue berangkat dari rumah sekitar jam 6 pagi agar sampe Bandungnya nggak terlalu siang. di salahsatu tempat "ngetem" atau tempat pemberhentian yang biasa digunakan untuk mencari penumpang sama si pak supir dan kernetnya, tiba-tiba ada bapak-bapak bertubuh cukup gempal, dengan usia sekitar empat puluh tahunan ke atas, dengan penampilan yang cukup kumal ngetuk pintu depan samping pak sopir di mobil yang gue tumpangi, gue tidak mendengar dengan jelas si bapak ini ngomong apa, tapi yang gue tangkap adalah, si bapak ini cuma punya uang beberapa aja dan dikasih ke pak sopir agar dia bisa ikut menumpang perjalanan di mobilnya, waktu itu penumpang mobil ini masih cukup lengang, cuma ada satu ibu ibu di depan kursi gue dan satu bapak-bapak yang duduknya di samping pak supir, yang gue salut adalah si pak sopir dengan baik hatinya mau menampung si bapak tadi yang padahal dia ngasih uang nggak seberapa dan nggak sesuai dengan ongkos yang harusnya dia bayarkan, padahal seringkali gue melihat kebanyakan supir angkutan ini agak selektif juga milih-milih penumpang. akhirnya naiklah si bapak-bapak tadi, dengan pakaian yang compang-camping, dan bahkan surprisingly bapak ini ngga pake alas kaki sama sekali, rambut panjang dan bajunya keliatan basah, tanda si bapak ini abis kehujanan kalo analisa gue, mengingat cuaca saat itu emang dari subuh udah gerimis dan awet banget hujannya, pas si bapak ini masuk ke mobil, pandangan gue terus tertuju ke si bapak ini, ada rasa iba dan sedih banget pas ngeliatnya nggak tau kenapa, abis itu, duduklah si bapak ini di bangku paling belakang, nggak lama kemudian si bapak ini nepuk pundak gue nanyain kalo ini udah jam berapa dengan senyum yang kalo kalian melihatnya pasti akan langsung mengingatkan kalian pada senyum ayah-ayah kalian, gue melihat si bapak ini senyumnya tuluus banget *ini mungkin terdengar lebay tapi gue merasakan itu. gue jawab "jam setengah sembilan pak".. abis itu si bapak nyaut lagi, "kaya udah sore ya neng" setelah itu ngga ada lagi percakapan antara kami, karena gue ngga tau harus ngomong apa lagi ke si bapak ini.
setelah sejam berlalu, kendaraan yang gue tumpangi memasuki area kota sumedang yang terkenal sama tahu nya itu, dan biasanya kalo di kendaraan umum kaya gini suka ada bapak-bapak jualin tahu nya dari kendaraan satu ke kendaraan lain, kasarnya mungkin kaya pedagang asongan.. pun ke kendaraan yang gue tumpangi ini, ada salahseorang penjual tahu yang usianya masih kelihatan produktif, sudah nggak terlihat muda tapi juga belum terlalu renta menjajakan tahu nya ke setiap penumpang. 
kembali lagi ke si bapak tadi, ternyata dia mau beli, ketika si abang tahu menghampiri dia, dia menyerahkan uang seribu rupiah koin ke si abang penjual tahu, gue cuma bisa diam dan terus memperhatikan interaksi keduanya, si abang penjual tahu kemudian ngasihin sebungkus tahu ke si bapak dan dengan ramah dia mengembalikan uang koin tadi ke si bapak dan bilang "udah pak, ambil lagi aja uangnya, saya ngasih aja tahu nya"... 
gue cukup tertegun, ternyata gue banyak dipertemukan dengan orang-orang baik hari itu, gue belajar banyak dari pak sopir, abang tahu, si bapak yang bahkan gue nggak tau sama sekali namanya, mereka semua orang-orang hebat yang bertahan di kerasnya dunia jaman ini tanpa " menginjak" orang lain, tetap nggak lupa untuk berbagi dan peduli dengan orang lain meskipun mungkin aja penghasilan mereka nggak seberapa dan secara materi masih kekurangan. gue hari itu disadarkan bahwa mungkin selama ini terlalu memikirkan "kok makin sini makin banyak banget ya orang-orang yang berbuat jahat", dan ternyata orang-orang baik pun nggak kalah banyak, kita seringkali menutup mata, sama halnya kaya kita lebih sering melihat sisi buruk orang daripada sisi baiknya..
adem deh ngeliatnya beneran, semoga kita semua bisa ngambil pelajaran dari hal-hal dan momen-momen sederhana yang kita lalui dan syukur-syukur kalo bisa sampe tahap melakukan... amiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#LifeAroundMeccaMedina Gallery Potrait Edition

See you next post 🤍🤍

Curhat

Kali ini gue cuma pengen mengeluarkan uneg uneg yang sebenernya udah lama banget ada di kepala gue yang masalahnya sih udah mainstream banget. Gue cuma mau bilang kalo setiap orang ngga sama, ada yang lebih suka show off dan sangat percaya diri akan kemampuan mereka, tapi ngga sedikit juga orang orang yang “gerak di bawah tanah”. They do something dengan gayanya mereka tanpa banyak orang yang tau, bahkan ngga ada yang tau samasekali. banyak penulis penulis yang karyanya bagus tapi lebih memilih menyembunyikan identitas mereka. Dan kita ngga bisa memaksakan kehendak masing-masing orang sesuai dengan apa yang kita mau. Seberapa sering sih kita denger don’t judge a book by it’s cover? Sering. Baget. tapi tetep aja it’s just a damn quote. Seberapa sering juga kita denger yang pintar itu bukan yang bisa matematika tapi lagi-lagi masih baanyak sekali orang orang yang menganut paham bahwa yang pinter adalah yang hisa matematika. Masih banyak juga yang sering membanding-bandingkan si kupu-...